Skip to main content

Cerita Hari Ini

Hari ini mungkin merupakan hariku yang paling sibuk sejak kembali dari penugasan di luar negeri. Beruntung kami tinggal di dalam kota Jakarta, sehingga waktu tempuh ke tempat kerja hanya sekitar 30 menit hingga maksimal 1 jam. Tapi jangan salah, itu kalau naik motor :p kalau naik mobil, entah berapa lama waktu yang diperlukan. Aaaah, cerita tentang kemacetan ibukota merupakan hal yang biasa, sebiasa orang membicarakan topik cuaca bila di luar negeri sana.

Pagi ini aku bangun pagi jam 5. Beruntung si bungsu, Bagas, ikutan bangun pagi dan mengajak sang kakak, Priya, shalat subuh. Nampaknya rencanaku untuk menjadi sangat sibuk sebelum berangkat kerja, akan kesampaian.

Mata sang kakak rupanya agak belekan sehingga harus diberi obat tetes mata. Di rumah rupanya tidak ada obat tetes mata. Ahhhh...aku juga harus membeli obat tetes mata, karena apotik 24 jam belum bersedia mengantar ke rumah bila pengiriman di bawah jam 8 pagi.

Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan iming-iming dan sedikit pelukan sekaligus tekanan sana-sini, akhirnya aku berhasil memaksa keduanya mandi pagi ngak bersama-sama. Repot sekali mengatur bila mereka mandi bersama-sama. Maunya mulai hari ini aku bisa tegakkan peraturan agar tidak ada satupun yang membawa mainan selama mandi. Tapi apa daya, si bungsu ribut dan merengek sehingga aturan itu harus kuurungkan dulu.


Kuberikan keduanya sedikit waktu untuk bermain; sang kakak seperti biasa, membaca komik Donald, dan si bungsu bermain dengan lego. Sementara itu, aku mandi singkat di lantai 2 dan bersiap dengan baju kerja. Tidak ada waktu untuk menghias kerudung menjadi cantik. Percuma juga sih. Karena di sini, aku berjibaku dengan sepeda motor demi menerjang kemacetan lalu lintas ibukota. 

Aku kembali ke keduanya dan menyiapkan sarapan pagi; nasi, sayur bayam, tempe goreng dan lele goreng. Si bungsu kekeuh sarapan dengan lauk tempe goreng, sementara kakak puas dengan menghabiskan 2 ekor lele goreng. Nyammmm..

Sementara mereka makan, aku naik motor dan bergegas cepat ke apotik dekat rumah. Suasana lalu lintas masih agak lengang. Setelah mendapatkan obat-obatan yang diperlukan, aku kembali ke rumah. Selain obat tetes mata anak, aku juga membeli obat batuk anak merk T*plexyl. Kakak hanya cocok dengan obat itu..

Kadang terlintas di pikiranku, kasian sama kakak. Dia banyak sekali mengonsumsi obat antibiotik di usianya yang ke 7. Ini karena efek alergi hebat di masa 3 hingga 5 tahun. Bayangkan, dia alergi dengan kerju, coklat, tepung (jadi harus jenis gluten), brokoli, kembang kol, semua ikan laut, telur dan lain-lain. Sediiiih banget kalau mengingat masa-masa itu. Aku sih tidak mengurusnya, karena saat-saat umur segitu, aku kuliah di lain negara, dan terus melahirkan dan mengurus si bungsu di lain lagi negara. Yah, kapan-kapan aku cerita lagi mengenai alergi kakak ini.


Setibanya di rumah dengan sigap kupegang kakak agar bersedia matanya ditetesi. Dia berontak, si bungsu membela kakak dan meminta agar mata kakak tidak usah ditetesi. Dengan ucapan menyemangati, bahwa laki-laki tidak pernah takut (:p), aku minta kakak untuk kooperatif. Tesss, setetes berhasil dan sedikit kotoran mata keluar dari mata yang ditetesi. Alhamdulillah.

Sesaat setelah itu, aku minta sang kakak bersiap untuk kuantar ke sekolah. Untung sekolah ABATA-nya kakak cukup dekat dengan rumah. Karena mengantar hari ini dengan motor, si bungsu merengek meminta ikut mengantar. Dia memang antusias sekali bila naik motor. Aku terpaksa membiarkannya menangis dan sedikit mengamuk, karena motor yang kupakai pagi ini, adalah motor tante Teta, dimana motornya cukup tinggi. Kakiku nggak nyampe euy :D

Sang kakak mengejek si bungsu; bahwa adek Bagas kasian deh, ditinggal bunda, sendirian dan sederet kata-kata nista lainnya :D Tangis si bungsu semakin kencang. Akhirnya Teteh membantu dan mengerem larinya si bungsu yang mendekat ke arah motorku. 

Sementara itu, Yangti dan Yangkung berangkat dengan mobil menuju luar kota untuk melayat seorang kerabat yang meninggal. Karena keperluan ini, Yangti tidak bisa mengantar Bagas ke sekolah seperti biasa. Ayah juga tidak bisa mengantar karena hari Rabu adalah jadwalnya mengajar di universitas.

Beberapa menit kemudian, kami tiba di sekolah ABATA yang hanya berjarak sekitar 1 km dari rumah. Kakak mencium tanganku. Aku minta agar dia memelukku dan berjanji untuk membawa botol minum yang tertinggal, dan tidak lupa minum air putih yang banyak. Kukecup keningnya. Betapa aku kehilangan dia beberapa tahun ini. Aku tidak mau lagi lengah dan membuang waktuku. I want to get back their hearts and minds.

Snack yang disiapkan untuk makan siangnya adalah pisang goreng. Karena berminyak itu, ususnya perlu air putih yang banyak. Supaya perutnya tidak sakit. Sekali lagi ususnya rewel sekali, karena pengaruh obat-obatan semasa dia berumur di bawah 5 tahun.


Kakak tersenyum bahagia. Kutahu bahwa waktu yang kuhabiskan untuk mengantarnya ke sekolah dan ngobrol selama di perjalanan, berbuah manis. karena kakak terlihat sumringah dan senang. Dia sayang sekali denganku dan sangat merindukan sosok seorang bunda :(

Alhamdulillah..motorku mengarah kembali ke rumah. Kudengar nyanyian si bungsu dari dalam rumah. Rupanya tangisan kepengen ikut tadi tidak berbekas di hatinya :D 


Aku langsung mencari taksi online. Setelah beberapa menit, aku dapat taksinya. Sayangnya, sopirnya meminta pembatalan karena nomor plat mobilnya ganjil. Hari ini tanggal genap, sehingga semua mobil yang masuk jalan Sudirman harus bernomor genap.

Waktu menunjukkan jam 07.05. Tanpa panjang lebar, aku siapkan perlengkapan Bagas untuk bertempur (naik motor) bersamaku.
"Sudah, sini ikut bunda. Kuantar naik motor yah". Si bungsu girang bukan main, aku jadi tersenyum. Aku sampaikan minta maap harus mengantarnya naik motor karena jalanan terlalu macet.


Dengan tutup kepala, masker, syal dan jaket, aku dan Bagas naik motor menuju kantor Kemdikbud. Pelan-pelan dan sangat hati-hati, akhirnya kami sampai dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun di sekolah TPA Mekar Asih. Alhamdulillah.

Bagas terlihat semangat sekali untuk langsung bermain perosotan setinya di TPA. Aku mengantarnya ke wastafel untuk cuci muka dan cuci tangan. Ritualku untuk anak-anak adalah membiasakan praktek higienis kepada anak-anakku. Aku senang dengan praktek ke-higienisan yang pernah kualami di beberapa negara.

Sambil kupeluk erat, kucium mesra dan sampaikan betapa aku sayang banget dengan adik dan kakak. Bagas memintaku agar aku menjemputnya pulang sore nanti. Kusampaikan bahwa yang jemput adalah ayah atau Yangti, karena arah tempat kerja bunda jauh dari TPA nya Bagas. Dia mengangguk mengerti.

Saat kudadah, dia sibuk main perosotan dan berlari-lari.

Aku lanjut naik motor ke kantor. Lalu lintas semakin padat. Sempat salah jalan sedikit karena jalur motor agak berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Aku tiba di kantor dan memindai tanganku tepat jam 08.36. Alhamdulillah.


Kusasari area  pejalan kaki di gedung BP7 kantorku. Tak hentinya aku bersyukur kepada Allah SWT karena hari ini lancar tidak kurang suatu apapun dan keluargaku dalam keadaan sehat walafiat. Terima kasih ya Allah atas semua karunia-Mu yang tidak terhingga..












 

Comments